ANALISIS GEOSTATISTIK DAN ZONASI ALTERASI UNTUK OPTIMASI KERANGKA EKSPLORASI ENDAPAN TIMAH PRIMER DI WILAYAH PANGKALAN BARU, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
DOI:
https://doi.org/10.5614/bull.geol.2025.9.3.5Abstract
Sari - Kebutuhan terhadap timah meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh permintaan industri, terutama industri baterai sebagai salah satu komoditas utama dalam mendukung transisi energi. Pulau Bangka merupakan wilayah di Indonesia dengan tatanan geologi yang mendukung mineralisasi timah. Namun, eksplorasi dan eksploitasi timah di Bangka masih didominasi oleh endapan aluvial, sementara cadangannya terus menurun. Sebaliknya, eksplorasi endapan timah primer masih minim, sehingga potensinya belum dimanfaatkan secara optimal. Studi ini bertujuan untuk menyusun kerangka eksplorasi timah primer di wilayah Pangkalan Baru, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui analisis geostatistik dengan integrasi data geokimia dan zonasi alterasi. Studi ini memanfaatkan data sekunder dan data primer. Data primer terdiri atas deskripsi litologi dan grab sample dengan total 24 data pada Satuan Granitwash, Satuan Granit, dan urat. Sampel dianalisis menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF) portable untuk mendapatkan konsentrasi timah. Konsentrasi timah dianalisis menggunakan metode Inverse Distance Weighting (IDW). Deskripsi litologi digunakan untuk menentukan zonasi alterasi. IDW Satuan Granit di bagian timur memiliki konsentrasi timah yang lebih rendah, yaitu ±49-141 ppm. Terdapat anomali konsentrasi timah di Satuan Granitwash dengan kadar mencapai ±7045 ppm. Konsentrasi timah teridentifikasi memiliki tren penurunan dari Satuan Granitwash > Satuan Granit > urat. Zonasi alterasi pada daerah studi didominasi oleh zona smektit-kaolinit berupa alterasi argilik rendah-menengah dan terbentuk melalui difusi fluida hidrotermal ke dalam batuan samping. Mineralisasi timah terjadi melalui mekanisme interstitial precipitation, sehingga mineralisasi yang dijumpai pada Satuan Granit memiliki pola diseminasi. Urat terbentuk setelah mineralisasi timah, ketika fluida pembawa timah sudah hampir habis, sehingga konsentrasi timah cenderung rendah pada urat. Hasil analisis menunjukkan bahwa kerangka eksplorasi berprioritas pada Satuan Granitwash sebagai target utama, dengan rekomendasi analisis lanjutan berupa paragenesa untuk menentukan urutan mineralisasi, serta analisis Analytical Spectral Device (ASD) untuk mengidentifikasi zona alterasi secara detail.






